Pada suatu waktu di saat liburnya kuliah semester satu windy ingin menikmati masa libur nya itu untuk berlibur ke Takengon. Dia tidak memutuskan untuk pergi sendiri ke sana namun dia mengajak seorang teman nya yang bernama Cutrin. Tetapi sungguh sayang ternyata cutrin tidak bisa ikut bersamanya karena dia ingin pulang ke kampung halaman nya. Akhirnya windy memutuskan untuk berlibur sendiri ke takengon. Dengan perasaan ragu-ragu namun pasti bercampur takut dia tetap ingin ke sana karena di balik misi nya yang ingin berlibur ternyata dia punya misi ke dua yaitu ingin bertemu paman nya yang sedang memanen cokelat di sana.
Tapat nya di hari kamis malam jumat dia berangkat ke sana
menggunakan bus. Cutrin mengantar windy ke terminal bus batoh. Ketika sampai di
terminal, windy yang sudah duluan membeli tiket pun langsung menaiki bus
jurusan takengon. Windy pun berpamitan dengan cutrin dan cutrin berkata
“Hati-hati ya win” dan windy pun
menjawab “iya”. Perlahan namun pasti dan di bantu dengan kondektur bus, windy
mengangkat barang-barang bawaanya yang sudah di packing nya sejak malam hari ke
dalam bus. Windy melihat ke arah jam tanganya dan berkata dalam hati “ternyata
sudah pukul 9”. Setelah 10 menit menunggu akhirnya bus pun berangkat. Perlahan
lahan bus semakin lama semakin melaju dengan kencang. Windy duduk di bangku
nomor 13 yaitu dua bangku dari pintu belakang bus.
Di sebalah windy ternyata
kosong, tidak ada orang. Malam semakin larut dan para penumpang pun sudah
tertidur pulas. Windy yang tidak bisa tertidur pun mulai merasa bosan karena
dia sendirian. Bukan karena dia berangkat sendirian, tetapi melainkan karena di
sebelah bangku dia tidak ada orang sehingga membuat dia tidak ada kawan
mengobrol. Akhirnya dia memutuskan untuk bermain HP. Ketika hendak membuka HP
sungguh sial nasib dia ternyata HP nya lowbat. “sialan”. Itulah perkataan windy
ketika melihat bahwa hp nya itu lowbat. Jam menunjukkan pukul sebelas. Windy
yang dari tadi merasa bosan pun kini mulai merasakan ketakutan. Bosan bercampur
ketakutan itulah yang dia rasakan saat ini. Dia baru sadar bahwa malam ini
adalah malam jumat kliwon. Bulu kuduk nya mulai naik dan dia pun merinding.
Ternyata bus sedang melewati komplek pemakaman umum. Komplek pemakan umum ini
sangat lah luas. Disini di makam kan orang-orang yang meninggal pada masa
konflik dan juga di makam kan para korban gempa dan tsunami di aceh 2004 silam.
Dia pun melihat ke kaca, terlihat kuburan-kuburan itu sepi tetapi ada asap yang
menyelimuti kuburan-kuburan di komplek pemakaman tersebut. Seolah ada yang
membakar sampah di sana. “namun siapa yang membakar nya?” terlintas pertanyaan
di benak nya. Bukan kah ini sudah tengah malam, berkata dia di dalam hati kecil
nya. Gonggongan anjing pun terdengar samar-samar dari arah kuburan. Kuburan itu
terlihat terang karena disinari bulan purnama. Gonggongan anjing itu semakin
lama semakin terdengar jelas. Windy pun teringat perkataan temannya pada saat
di kos. Pada hari rabu yang lalu datang beberapa teman dekat nya ke kos windy
yaitu cutrin, yoga, andy, neilul dan juga rojak yang mempunyai misi membantu
melahap durian-durian yang baru sampai dari kampung windy. Ketika dalam proses
pembantaian durian, mereka bercerita-cerita tentang angker nya fakultas
pertanian. Singkat cerita, yoga berkata kepada windy bahwa kalau ada anjing
yang menggonggong keras di malam hari itu tanda nya dia melihat sosok makhluk
halus seperti pocong dan genderuwo. ‘Inikan malam jumat?’, windy berkata dalam
hati nya dan tiba tiba............supir bus mengerem tiba-tiba dan membuat
windy kaget. Ternyata ada seorang penumpang yang masuk. Yaitu seorang
nenek-nenek tua. Bus masih berada di daerah komplek pemakaman tersebut.
Nenek itu masuk dan berjalan di dalam bus sambil menawarkan
buku. Windy yang dari tadi merasa bosan bercampur ketakutan pun memutuskan
untuk membeli buku yang di jual oleh nenek itu sehingga terjadi lah percakapan
singkat di antara meraka.
Windy : “nek, saya mau beli buku nya”.
Nenek : “ini buku yang tinggal sama nenek”. Si nenek sambil
menunjukkan buku nya ke arah windy dan ternyata itu adalah buku cerita horor
yang berjudul ‘misteri mobil ambulan pembawa jenazah RSDUZA’.
Timbulah rasa ragu dalam diri windy untuk membeli buku itu
atau tidak. Karena dia juga dalam rasa kebosanan dan pun hp nya habis batre
akhirnya dia memutuskan untuk membeli buku tersebut. Windy berkata dalam hati
nya ‘’ini kan cuman buku cerita aja, jadi ngapain takut”. Sambil agak sedikit
tersenyum dia menanyakan harga kepada nenek itu.
Windy : “berapa harga buku nya nek?”
Nenek : “buku ini sebenarnya nenek tidak niat jual, karna
buku ini adalah kado buku pemberian dari
suami nenek yang udah lama meninggal waktu tsunami kemarin. Buku ini di
berikan kepada nenek 2 minggu yang lalu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan
kami yang ke 60thn. Tapi.......”
Windy : “tapi apa nek?”, menyambung perkataan nenek yang
terputus tiba-tiba.
Nenek : “yasudah ini buku nya nenek jual untuk kamu 120rb
saja”.
Windy: “kenapa mahal kali nek? Enggak kurang harga nya?”
Nenek: “seratus ribu aja deh untuk kamu”
Karena windy dalam kebosanan akhirnya dia menerima harga
yang di berikan oleh nenek itu yaitu seratus ribu. Dia memberikan uang nya
kepada nenek itu.
Nenek :”tapi kamu harus ingat, ini bukan sembarang buku,
kamu boleh membaca buku ini sampai habis tapi jangan pernah membuka dan membaca
halaman terakhir buku ini”
Tanpa pikir panjang windy pun mengiyakan apa kata nenek
tersebut. Lalu dia mulai membuka dan membaca nya. Nenek itu pun pergi ke arah
belakang bus. Windy mengira sang nenek duduk di kursi paling belakang.
Perjalanan berlanjut terus tanpa henti dan sekarang sudah keluar dari area
kuburan tersebut. Kebosanan windy kini mulai hilang karena dia sudah lalai
dengan membaca buku yang tadi di beli dari nenek tua itu. Sontak dia kaget,
lalu menoleh kebelakang. Dan ternyata nenek itu sudah tidak ada lagi. Dengan
nada bingung hati nya bertanya “kemana nenek itu? Bus dari tadi terus melaju
dan tidak berhenti menaikkan ataupun menurunkan penumpang lagi. Lalu, kemana
nenek itu menghilang? Atau......jangan-jangan...?”. bulu kudung nya kembali
naik, windy mulai merinding memikirkan yang aneh-aneh. ‘’ah yasudah gak usah di
pikirin kali, nanti aku makin takut” kata windy yang berbicara kepada dirinya
sendiri.
Dengan tidak memikirkan lagi nenek tersebut kemana
menghilangnya dia pun melanjutkan membaca buku tersebut. Jam sudah menunjukkan
pukul dua malam, bus terus melaju dengan konstan. Windy melihat kesekitar,
hanyalah dia dan supir yang belum terlelap masuk ke alam mimpi.
Perlahan buku terus di baca, hingga 3 halaman lagi mendekati
halaman terakhir dan dia pun kembali teringat kepada nenek tua itu. Windy
melihat ke kaca, tidak ada seorang pun di luar, hanya bulan purnama yang terus
menghidupkan malam di luar sana. Sekarang perjalananya mulai memasuki kawasan
pergunungan, itu tanda nya dia sudah hampir sampai ke sana. Ketika dia melewati
sebuah jembatan penyebrangan, windy sadar bahwa jembatan itu sangat lah
terkenal dengan ke-angkeran-nya. Disaat dia sedang memikirkan nenek tersebut,
ada bayangan kilat yang melewati bus yang di tumpanginya. “apa itu?” windy
berkata. Tidak ada yang menjawab.
Entah kenapa di saat melewati jembatan angker itu,windy teringat
perkataan nenek tadi dan dia baru sadar dengan perkataan nenek tua itu bahwa
buku ini adalah pemberian dari suami nya sebagai hadiah dari ulang tahun
perkawinan mereka. “suami nenek itu kan sudah lama meninggal. Tapi, tadi kata
nenek itu bahwa buku ini baru saja di berikan oleh suami nya dua minggu yang
lalu?” windy terlihat bingung dan ketakutan memikirkanya. Dia mulai ketakutan,
namun dia terus menghabiskan buku nya itu sampai habis. Sekarang tinggal satu
halaman lagi yang belum di buka dan di baca nya yaitu halaman terkahir.
Windy semakin takut. Malam semakin larut. Sosok anjing kembali menggonggong. dia kembali teringat dengan perkataan yoga bahwa kalau ada suara anjing menggonggong bertanda kalau ada genderuwo di daerah situ. Kini suara anjing itu dan sosok genderuwo yang ada di pikiran windy seakan mendekap dan mencekik leher dia dari belakang. keadaan dia semakin takut, dia menutup buku nya dan memutuskan untuk tidur. Tapi...dia tidak bisa tertidur, walaupun kini dia sudah mengantuk, tapi dia masih penasaran dengan lembaran terakhir buku itu. Karena begitu penasarannya dia dengan buku itu akhirnya dia memutuskan untuk membuka kembali buku ‘misteri mobil ambulan pembawa jenazah RSDUZA’ tersebut. Kini dia siap dengan apa pun resiko yang terjadi di saat membuka dan membaca halaman terkhir buku itu. “Seandainya aku mati setelah membaca sesuatu dari halaman terakhir buku ini ataupun aku di hantui terus, aku siap” kata windy.
Windy semakin takut. Malam semakin larut. Sosok anjing kembali menggonggong. dia kembali teringat dengan perkataan yoga bahwa kalau ada suara anjing menggonggong bertanda kalau ada genderuwo di daerah situ. Kini suara anjing itu dan sosok genderuwo yang ada di pikiran windy seakan mendekap dan mencekik leher dia dari belakang. keadaan dia semakin takut, dia menutup buku nya dan memutuskan untuk tidur. Tapi...dia tidak bisa tertidur, walaupun kini dia sudah mengantuk, tapi dia masih penasaran dengan lembaran terakhir buku itu. Karena begitu penasarannya dia dengan buku itu akhirnya dia memutuskan untuk membuka kembali buku ‘misteri mobil ambulan pembawa jenazah RSDUZA’ tersebut. Kini dia siap dengan apa pun resiko yang terjadi di saat membuka dan membaca halaman terkhir buku itu. “Seandainya aku mati setelah membaca sesuatu dari halaman terakhir buku ini ataupun aku di hantui terus, aku siap” kata windy.
Sambil menutup mata, windy pun membuka halaman terakhir buku
tersebut. Dan ketika dia membuka matanya, hanyalah ada satu kalimat saja di
buku tersebut. Dengan terkejut nya dia membaca kalimat tersebut. Ternyata pada
halaman terakhir buku itu bertulis “BANTUAN UNICEF. TIDAK UNTUK DI JUAL”


0 Komentar untuk "cerita horor perjalanan windy ke takengon"